Follow me on


Sunday, June 14, 2015

Pujian dari Tuhan: Bergeser dari kepentingan diri sendiri demi kepentingan orang lain


Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan. II Kor 10:18
Apakah kita ingin menjadi orang yang dipuji Tuhan? Jika Ya, sangat tepat jika saudara terus menyimak pesan berikut ini.

E-OKEZONE.com - Dalam Alkitab, hanya ada dua orang yang dipuji oleh Tuhan Yesus, yaitu Perwira yang hambanya sakit, dan seorang Wanita Siro-Fenisia. Dua-duanya bukanlah orang yang dekat dengan Tuhan. Dua orang ini dipuji Tuhan karena mereka datang pada Tuhan bukan untuk kepentingannya sendiri, tetapi demi kepentingan orang lain. Jadi, tidak akan pernah ada pujian dari Allah selama kita tidak bergeser dari kepentingan sendiri pada kepentingan orang lain. Supaya kita mendapat pujian dari Tuhan, ada tida hal yang harus kita mengerti atau alami: Matius 15:21-28

1. Tahan Mengahdapi Tuhan yang Diam.
Wanita siro-Fenisia ini awalnya tidak mendapat respon dari Tuhan. Ia sudah berteriak-teriak, namun Tuhan hanya diam saja kepadanya. Seringkali, Tuhan itu hanya diam, menunggu waktuNya tiba. Contohnya, ketika Lazarus meninggal, Tuhan tidak langsung bertindak dan menjawab permohonan Maria dan Martha. Tuhan menunggu samapai 4 hari. Begitu juga saat badai topan menghantam perahu murid-murid, saat itu murid-murid panik dan berteriak-teriak, namun Yesus tidur.

Apa yang dilakukan wanita Siro-Fenisia itu saat tidak mendapat respon dari Tuhan? Ia mendekat dan tersungkur di depan kaki Yesus. Kalau Tuhan sedang diam, kita juga harus diam. Kita harus belajar DIAM dan MENANTI-NANTIKAN Tuhan.

2. Tahan Menghadapi Penolakan Tuhan.
Ada dua hal yang menyebabkan seseorang ditolak Tuhan. Pertama karena kesalahan dan dosa manusia, kedua karena Allah sedang menguji kita, dengan cara sepertinya Ia menolak kita. Wanita Siro-Fenisia ini ditolak oleh murid-murid Yesus dan juga dicueki oleh Yesus. Lalu apa yang dilakukan oleh wanita tersebut? Datang lebih dekat dan menyembah Dia

Ada saatnya kita ditolak oleh manusia, ada saatnya semua jalan seperti buntu dan Tuhan membiarkan kita, sepertinya Tuhan menolak kita. Saat-saat seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah TERSUNGKUR, sujud menyembah Tuhan.

3. Tahan Menghadapi Penghinaan.
Bukan hanya didiamkan dan ditolak, namun ada waktunya kita dihina. Tuhan ijinkan kita direndahkan seperti wanita Siro-Fenisia ini. Wanita ini benar-benar direndahkan oleh Tuhan, namun ia tidak marah. Ia tetap rendah hati. Pada akhirnya KERENDAHAN HATI kitalah yang akan membuat kita tahan uji./rp-wjgkkd/200507-p04/e-okezone.com

Keywords: Pujian dari Tuhan
*Foto: copyright livescience.com
Blogger Widgets

Tuesday, June 9, 2015

Demonstrasi Kemenangan di tengah Keluarga, Rumah Tangga, Pekerjaan, Lingkungan, Kota dan Bangsa


E-OKEZONE.com - Alkitab dalam Perjanjian Baru mencatat bahwa Gereja Tuhan/Umat PilhanNya seringkali digambarkan dalam beberapa hal. Gereja Tuhan pernah digambarkan sebagai suatu keluarga, bangunan/bait Allah dan juga sebagai mempelai Kristus. Selain itu umat pilihanNya juga digambarkan sebagai suatu pasukan, bala tentara, angkatan bersenjata yang harus selalu siap untuk berperang

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus menegaskan ada ayat-ayat yang terakhir bahwa setiap orang Kristen hidup dan terlibat dalam suatu peperangan. Dan peperangan ini demikian dahsyat, sehingga mungkin sulit bagi pikiran kita untuk membayangkannya. Peperangan besar ini tidak hanya melibatkan para pemimpin atau pendeta saja, melainkan semua orang Kristen. Akan tetapi sayang sekali, banyak orang percaya yang tidak menyadari bahwa hidupnya ada dalam suatu peperangan. Sekarang coba perhatikan dengan baik. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, setiap kita orang percaya selalu ada di dalam kancah peperangan, peperangan di alam roh.

Mengenai peperangan ini Paulus berkata di Efesus 6:12, karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Artinya jelas bahwa sebagai umat Kristen kita semua terlibat dalam pertarungan yang menentukan antara hidup dan mati melawan sebuah pemerintahan, sebuah kerajaan tidak kasat mata di mana iblis sebagai pucuk pimpinannya. Artinya lagi bahwa hidup kekristenan kita tidak bisa terlepas dari yang namanya perjuangan.

Pada saat ini ada banyak anggapan bahwa orang Kristen tidak usah berbuat apa-apa. Mereka beralasan, Yesus sudah menyelesaikan segalanya dan kemenangan sudah diraih dan disediakan bagi mereka yang percaya kepadaNya. Jadi cukuplah datang ke Gereja tiap hari Minggu, duduk manis di bangku yang paling nyaman, ikut bernyanyi dan bertepuk tangan sebentar, dengarkan kotbah dengan mungkin sedikit terkantuk-kantuk, tidak lupa memberi persembahan dan kemudian pulang. Mereka beranggapan bahwa yang namanya perjuangan, pergumulan atau peperangan rohani hanya melibatkan sekelompok orang tertentu seperti para pendeta, penginjil atau pendoa syafaat saja. Mereka pikir itu adalah tugas mereka. Padahal Paulus dengan tegas berkata, ini adalah perjuangan kita. Artinya tidak perduli siapa kita, apapun pelayanan kita, saat ini kita sedang turut ambil bagian dalam suatu medan pertempuran.

Sekarang mari kita coba ibaratkan pertempuran atau peperangan rohani tersebut seperti suatu pertandingan olah raga. Ada suatu jenis pertandingan olah raga yang mungkin paling berat untuk adu kekuatan antra dua orang, yaitu gulat. Pertandingan gulat melibatkan seluruh anggota tubuh, seluruh kepandaian dan taktik untuk meraih kemenangan. Intinya, bergulat berarti bertarung habis-habisan! Hanya saja seberat apapun pergulatan kita, Tuhan sudah memastikan kemenangan bagi kita.

Dalam Kolose 2:15 dikatakan, Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka. Hal ini menggambarkan apa yang telah Yesus kerjakan bagi kita. Yesus sudah mengalahkan iblis secara sempurna dan untuk selama-lamanya. Bahkan Yesus mempertontonkan kemenanganNya itu kepada seluruh alam semesta. Tetapi perhatikan, Yesus meraih kemenangan itu bukan bagi diriNya sendiri karena Ia tidak memerlukan hal itu. Yesus meraih kemenangan itu dan mengalahkan musuh, melucuti sejatanya, menelanjangi kekuasaannya serta mempertontonkannya di muka umum adalah bagi kita. Lihat II Korindus 2:14, Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. Di ayat ini jelas terlihat kalau Tuhan ini supaya kemenangan itu dipertontonkan kepada seluruh alam semesta melalui kita GerejaNya. Betapa luar biasa bukan? Tidaklah aneh apabila Paulus sampai berkata, "syukur bagi Allah". Betapa tidak, Dia selalu membiarkan kita ambil bagian dalam setiap kemenanganNya dimanapun kita berada.

Hal terpenting yang menjadi bagian kita saat ini adalah mendemontrasikan, mempertontonkan dan menyatakan kemenangan itu di tengah rumah tangga, pekerjaan, lingkungan, kota dan di tengah bangsa kita. Dengan demikian pengenalan akan Kristus tersebar seperti bau harum yang semerbak kemana-mana./rp-wjgkkd/180606-p02/e-okezone.com

Keywords: Demonstrasi Kemenangan
*Foto: copyright victorybaptistlouisville.org

Monday, June 8, 2015

Tidak Baik Memberikan Roti Kepada Anjing: Wanita Siro-Fenisia yang Memiliki Iman, Berkarakter Hebat dan Rendah Hati


E-OKEZONE.com - Wanita Siro-Fenisia ini karakternya sangat hebat. Layak kita mengorek sejenak tentang apa yang dilakukannya. Ia tinggal di Siro-Fenisia, tepatnya di Kanaan (Mat 15:22). Ia orang Yunani, Alkitab sehari-hari menyebut ia bukan orang Yahudi (Markus 7:26). Apa artinya? Bisa jadi Alkitab ingin menegaskan bahwa dia orang kafir. Lihatlah pernyataan Paulus ini, "Saudara-saudara yang bukan orang Yahudi! Ingatlah keadaanmu pada waktu dahulu: Kalian disebut "orang tak bersunat", ... (Efesus2:11). Ia juga bukan penganut Yudaisme (agama Yahudi, mirip kekristenan namun bedanya agama Yahudi tidak mengakui bahwa Mesias sudah datang. Mereka masih menantikan mesias yang lain). Secara iman, wanita ini tidak memiliki dasar keyakinan yang kokoh yang mampu menjembatani dirinya untuk mepercayai Yesus.

Ketika wanita ini mendengar bahwa Yesus Sang pembuat mujizat itu ada di Tirus, ia segera datang hendak menjumpaiNya. Berapa jarak Kanaan-Tirus, tidak jelas, namun untuk bisa bertemu dengan Yesus minimal ia harus melewati dua kota (lihat peta di Alkitab). Ini bukti bahwa ia percaya kepada Yesus. Tindakannya ini telah menggemakan ribuan kata percaya yang tak terucapkan.

Begitu bertemu Yesus dan murid-muridNya, apa yang diperoleh Wanita ini? Sambutan atau pelayanan yang manis? Bukan, melainkan hinaan. Sekuat tenaga ia berseru kepada Yesus dan dengan kerendahan hati bahkan sampai tersungkur ia mohon kesembuhan bagi anaknya, namun Yesus tidak meresponi dengan baik. Jawaban yang diberikan Yesus kepada wanita ini sebenarnya tidak nyambung, percakapan tulalit (suara telepon yang tidak nyambung). Wanita ini mohon kesembuhan, kog jawabNya "Tidak baik memberikan roti kepada anjing." Siapa yang minta roti, dan siapa yang disebut anjing? Meskipun wanita ini tahu bahwa dirinya disamakan dengan anjing (binatang yang najis, gambaran karakter yang tidak bagus), ia tidak tersinggung. Ia sadar bahwa dirinya benar-benar direndahkan, tetapi ia tidak memberontak. Ia tetap memiliki kerendahan hati. Singkat cerita mujizat terjadi. Anak wanita Siro-Fenisia ini sembuh.

Dari kisah wanita Siro-Fenisia ini, kita bisa belajar karakter:

1. Percaya Kuasa Allah
Untuk memiliki iman atau karakter yang mudah mempercayai Yesus perlu latihan dari hal-hal sederhana. Jika masalah kecil saja kita tidak sanggup mempercayai Yesus, mampukah kita mempercayai Yesus dalam perkara besar? Kalau dengan orang-orang yang dekat dengan kita, kita tidak bisa saling percaya dan terus-terusan curiga, bagaimana kita bisa mengalami mujizat besar? Untuk itu mari saling percaya!

2. Tidak Mudah Tersinggung
Salah satu ciri pribadi yang telah dipulihkan adalah tidak mudah tersinggung dengan sesama, dan juga tidak mudah ngambek terhadap Tuhan. Ia tidak sensitif terhadap kata-kata pedas yang mencambuk dirinya atau kata-kata sinis yang mencabik-cabik perasaannya. Jadi, jika kita masih gampang tersinggung, kita perlu belajar dari wanita Siro-Fenisia ini.

3. Rendah Hati
Niagara tidak akan berkurang kecantikannya meskipun orang meludahinya. Begitu juga dengan orang yang memiliki kerendahan hati. Meskipun ia direndahkan, ia tetap mampu menguasai diri. Ia tidak merasa terhina meskipun kenyataannya dihina, ia juga tidak memberontak meskipun diperlakukan tidak enak./rp-wjgkkd/030507-p03/e-okezone.com

Keywords: Wanita Siro-Fenisia, Rendah Hati, Karakter
*Foto: copyright dinamikaiman.wordpress.com

Monday, May 11, 2015

Hidup Dalam Komunitas Sel (Komsel)


e-Okezone.com, Hidup Dalam Komunitas Sel (Komsel) - Komunitas Sel adalah keluarga. Sebagaimana layaknya sebuah keluarga, komunitas memerlukan kehidupan bersama yang nyata, bukan sekedar teori, rencana-rencana, harapan-harapan, atau hal-hal yang seharusnya dilakukan. Komunitas Sel merupakan sebuah kehidupan yang perlu dihidupi bersama, dibangun, dan dikembangkan secara bersama-sama pula. Untuk itu sebagai pemimpin komunitas sel maupun anggota, supaya masing-masing memiliki emosi kasih atau ikatan batin dalam komunitas, kita perlu meningkatkan Rekening Bank Emosi Kasih dengan melakukan hal-hal berikut ini:

1. Meluangkan waktu untuk bersama
Ada waktu-waktu tertentu, seseorang itu tidak butuh jawaban atau solusi permasalahan yang dialami. Kadang yang ia butuhkan adalah kebersamaan dalam suasana santai maupun tertekan.

2. Perhatian atau kepedulian yang nyata.
Ada kalanya yang dibutuhkan seseorang bukan hal yang besar, namun hal-hal kecil atau sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti; sapaan, senyuman, sentuhan, mendengarkan, kata-kata yang menguatkan, segelas air putih, ucapan selamat dalam moment-moment penting yang dialami anggota komunitas kita. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mau peduli dengan sesama.

3. Empati yang tulus bukan sekedar simpati.
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! (Roma 12:15), begitulah rasul Paulus menjabarkan istilah empati. Artinya benar-benar memiliki rasa senasib sepenanggungan. Turut merasakan perasaan anggota komunitas kita. Kalau orang lain bersukacita ya jangan mbesengut (muka masam), namun sebaliknya jika ada yang menangis jangan senyum-senyum atau tertawa ketika melihatnya.

4. Pemberian kado-kado kecil.
Pemberian kecil akan bernilai besar ketika diberikan dalam ketulusan kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat (saat ia membutuhkan)

5. Saling melayani

Jika kesadaran dan semangat untuk saling melayani atau memberi diri itu ada dalam komunitas kita, perpecahan sangat kecil kemungkinannya, tidak ada yang terlantar dalam komunitas kita, tidak ada rasa iri atau saling menuntut, dan orang yang tinggal dalam komunitas kita akan betah.

6. Doa

Kelihatannya sederhana, namun jika kita benar-benar mendoakan orang-orang dalam komunitas kita, maka akan ada kedekatan dalam hubungan, terobosan, dan ada berkat yang mengalir dalam diri orang-orang yang kita doakan./rp-wjggkd/110307-p04/e-okezone.com

*Foto: copyright varchitectthoughts.files.wordpress.com

Sunday, March 29, 2015

Penundukan Diri


Penundukan Diri
e-Okezone.com, Penundukan Diri - Dari 10 perintah Allah yang diberikan Musa bagi Israel, ada satu perintah yang langsung disertai janji berkat, yaitu: "Hormatilah ayah dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu" (Keluaran 20:12). Mengapa demikian? Sebab dalam kerajaan Allah berlaku prinsip yang mutlak, yaitu prinsip otoritas. Yesus Kristus sebagai TUHAN & Raja, pemegang otoritas tertinggi dalam melaksanakan pemerintahanNya (Misalnya: menyatakan visi/arah, mengayomi, memberkati, mendidik, mendisiplinkan) melalui otoritasNya yang ditempatkan dalam hidup kita. Pemimpin rohani adalah ayah dan ibu rohani dalam keluarga Allah. (Baca juga: Fathering Generations)

Bagaimana cara praktis agar kita dapat menerima berkat janji tersebut di tanah perjanjian? Miliki sikap dan karakter hormat & penundukan diri kepada otoritas.

1. Ibrani 13:17. Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang bertanggung jawab atasnya.

2. I Tesalonika 5:12-13. Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras diantara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka.

3. I Timotius 5:17. Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkotbah dan mengajar.

Selamat menikmati umur panjang di tanah perjanjian sebagai berkat dari penundukan diri kepada otoritasNya. Haleluya/rp-wjgkkd/110307-p03/e-okezone.com

*Foto: copyright fbct.net