Friday, March 27, 2015

Fathering Generations


e-Okezone.com, Fathering Generations - Setiap pemimpin dipanggil untuk menjadi bapa dan ibu bagi orang-orang yang dipimpinnya (1 Tesalonika 2:7-12). Ini adalah sebuah panggilan utama seorang pemimpin di akhir jaman. Panggilan inilah yang disebut dengan roh dan kuasa Elia (Lukas 1:17). Bahkan panggilan ini yang akan mempersiapkan generasi ini siap berjumpa dengan Yesus saat kedatangan kali kedua (Maleakhi 4:5-6). Saya percaya kesadaran dan kemauan untuk menjadi bapa dan ibu rohani akan menghancurkan kutuk sehingga Tuhan memukul bumi hingga musnah (Maleakhi 4:6). Beberapa hal yang dilakukan untuk menjadi bapa dan ibu rohani yaitu:

1. Berlaku Ramah
Tidak ketus saat anak rohani kita datang. Sekalipun lagi tidak mood, ramahlah untuk melayani kebutuhannya. Inilah yang disebut korban! Apapun yang kita taburkan tidak akan pernah kembali sia-sia.

2. Mengasuh dan merawat
Merawat dan menjaga anak-anak rohani dengan doa, puasa dan perkataan iman sehingga setiap mereka terlindungi dan terjagai.

3. Rela membagi Injil Kerajaan Allah
Terus memiliki waktu untuk mengajar, mengimpartasi dan menanam nilai Kerajaan Allah. Seperti, mengajar saat teduh dan mengatur keuangan.

4. Rela membagi hidup
Spend time secara pribadi dengan anak-anak rohani kita. Bukan hanya membagi kekayaan Injil Kerajaan Allah tetapi membagi hati dan hidup. Ini hanya bisa saat meluangkan waktu bersama, misalnya, besuk di kos atau di rumahnya.

5. Menasehati dan menguatkan hati seorang demi seorang
Punya waktu spesial dengan akan-anak rohani untuk memberikan nasehat apostolik, untuk meneguhkan, untuk memuji dan menguatkan hati anak-anak rohani.

6. Meminta dengan sangat untuk hidup sesuai kehendak Allah
Seringkali disiplin diperlukan bagi lahirnya anak-anak rohani yang kuat. Misalnya, meminta untuk komsel, setia di ibadah raya, anak-anak rohani kita doa dan puasa dan baca Alkitab sehari 5 pasal (Baca: Hidup Dalam Komunitas)

7. Melatih dan mengutus untuk melakukan amanat agung

Mendampingi besuk jiwa baru dan megajari anak rohani bersaksi ke jiwa baru.

Tangkaplah roh dan kuasa Elia sekarang juga untuk bisa menjadi bapa dan ibu rohani./rp-wjgkkd/110307-p02/e-okezone.com

*Foto: copyright inspire-others.com
Blogger Widgets

Thursday, March 26, 2015

Mari Menggarap Tanah Perjanjian


e-Okezone.com, Mari Menggarap Tanah Perjanjian - Memasuki Tanah Perjanjian adalah satu perkara, namun mengusahakannya adalah perkara yang berbeda. Banyak orang saking senangnya masuk Tanah Perjanjian lupa mengusahakannya. Ada banyak hal yang harus kita perbaiki, meski sudah di tanah perjanjian, salah satunya adalah komunitas sel (Baca: Hidup Dalam Komunitas). Cukup lama belalang pelahap memunahkan kualitas penyembahan komsel, belalang pengerit menggerogoti kasih dan kepedulian di antara anggota komsel dan belalang pelompat pun memakan habis kerinduan saling membagikan firman dalam komsel. Namun, Tanah Perjanjian memberi harapan baru. Untuk memperbaiki kondisi ini, kita belajar dari 2 Samuel 23: 8-12 tentang 3 orang pahlawan yang luar biasa, yaitu :

1. Isyabaal: kerja keras dan totalitas
Dalam satu pertempuran saja, Isybaal bisa membunuh 800 musuh. Ini bukan musuh biasa, tapi semuanya prajurit. Ini menunjukkan Isybaal seorang pekerja keras yang total dalam setiap tanggung jawab yang diemban. Isybaal tidak memperdulikan apakah prajurit Israel yang lain berperang atau tidak. Ia tidak peduli akan selamat atau tidak. Yang ia pedulikan ialah pergi perang, fokus dan hancurkan sebanyak mungkin musuh. Semangat seperti Isybaal ini sangat kita butuhkan untuk menggarap tanah perjanjian, termasuk komsel. Semangat untuk total melakukan yang terbaik, tidak menyalahkan kondisi atau siapa pun. Jika setiap kita menggarap komsel dengan semangat Isybaal, terobosan pasti terjadi.

2. Eleazar anak Dodo: semangat tidak akan menyerah.
Alkitab jelas mencatat Eleazar membunuh demikian banyak musuh sampai tangannya lesu. Tapi selesu-lesunya, pedang tetap melekat di tangannya. Artinya Eleazar tidak memakai alasan kelesuan untuk melepaskan pedang, tapi ia tidak menyerah. Ia tetap ada di medan perang, tetap melakukan tanggung jawabnya, dan berperang sampai detik terakhir.

Banyak orang sudah apatis duluan melihat kondisi komsel yang seperti itu-itu juga. Pesan Tuhan jelas! Jangan terlalu cepat untuk mudah berkata, "Aku menyerah". Jangan terlalu mudah untuk langsung patah arang dan enggan berjuang. Mari kita memiliki semangat seperti Eleazar, yang walaupun dalam keadaan lesu, ia tetap memegang teguh pedang. Apapun kondisi komsel kita, selalu ada kesempatan untuk perubahan dan terobosan. Masalahnya, maukah kita membuang perkataan-perkataan negatif yang melemahkan semangat dan membulatkan tekad untuk tidak menyerah?

3. Sama Anak Age: setia dalam perkara kecil
Sama ini seorang prajurit tapi dia hanya disuruh menjaga sebidang ladang penuh kacang merah. Ini tentu bukan perkara yang biasa dikerjakan seorang prajurit. Bukankah prajurit harusnya di medan perang, bukan mengurus urusan gampangan seperti menjaga ladang? Tapi Sama tidak meremehkan tanggung jawab kecil ini. Sekalipun kecil, Sama membuktikan ketika ada yang menyerang dan ingin merebut ladang itu, ia berdiri tegak di tengah dan mempertahankan ladang tersebut, sementara tentara Israel lain langsung lari, lupa tanggung jawabnya. Banyak orang mengambil sikap seperti tentara Israel. Melihat komsel tidak berubah, mereka langsung lari dan tidak peduli. Padahal, ada tanggung jawab yang Tuhan percayakan. Semangat seorang Sama yang tetap tegak berdiri membela tanggung jawabnya haruslah kita hidupi, Beranikah kita tetap memperjuangkan komsel sekalipun yang tersisa hanya seorang anak binaan? Ataukah kita lebih memilih untuk merger dan cari enak di komsel lain? Beranikah kita tetap setia memuridkan jiwa-jiwa dan membela mereka sekalipun sepertinya tidak ada harapan untuk berubah?

Tiga semangat ini - kerja keras dan totalitas, tidak gampang menyerah dan setia mengerjakan tanggung jawab kecil sangat perlu kita praktikkan dalam komsel. Kita sudah di Tanah Perjanjian, mari kita bersepakat untuk memberi yang terbaik. Percayalah! Hal besar sedang terjadi. Namun, jika kita tidak meregangkan iman dan kapasitas, kita akan menjadi orang-orang yang justru merana di Tanah Perjanjian!/rp-wjgkkd/180207-p02/e-okezone.com

*Foto: copyright Buzzerbeezz

Wednesday, March 25, 2015

Penguasaan Diri


Penguasaan Diri
e-Okezone.com, Penguasaan Diri - Penguasaan diri bukanlah urapan atau karunia. Penguasaan diri merupakan satu dari buah roh. Buah roh dihasilkan dari latihan yang terus menerus. Apakah ciri-ciri orang yang telah memiliki karakter penguasaan diri?

Menang terhadap kebebasan (2 Raja-raja 21:1-9).
Seorang raja memiliki kekuasaan dan kebebasan. Ia bebas melakukan apa yang ia sukai. Kita sebenarnya berada di posisi "raja" terhadap keinginan-keinginan kita. Selidiki apakah dalam situasi "bebas", yakni ketika tidak ada yang melihat atau mengontrol, kita TIDAK terjerat dalam dosa dan kebiasaan buruk lainnya atau malah sebaliknya.

Sanggup mengatur mood/keinginan (Bil 20:6-13)
Meski Musa adalah seorang yang paling lembut hatinya dimuka bumi (Bil 12:3), ia sempat kehilangan kesabaran, sehingga akibatnya fatal, ia tidak masuk ke tanah perjanjian (Baca: Mental Penakluk Tanah Perjanjian). Sepertinya ketidaksabaran Musa manusiawi, tetapi hal itu pun mencerminkan Musa yang tidak berpikir panjang, lepas kontrol, dan tidak menguasai diri.

Hidup disiplin (1 Kor 9:24-27)
Paulus mengingatkan untuk kita mengejar hal-hal yang mulia. Untuk itu orang harus melatih tubuhnya. Semakin mulia hal-hal yang kita inginkan, semakin keras latihan yang kita lakukan. Hidup kita harus disiplin.

Taat meski dalam kondisi sulit
Daniel adalah figur orang yang tetap taat meski dalam keadaan sulit. Selidiki apakah dalam keadaan yang tidak mengenakkan kita tetap melakukan bagian kita dengan setia?/rp-wjgkkd/180207-p03/e-okezone.com

*Foto: copyright discovery.com

Tuesday, March 24, 2015

Mental Penakluk Tanah Perjanjian


e-Okezone.com, Mental Penakluk Tanah Perjanjian - Tuhan akan membawa kita untuk mengalami Tanah Perjanjian. Hidup kita, keluarga kita, pelayanan kita, pekerjaan kita dan bisnis kita akan mengalami kelimpahan susu dan madu (Baca: Diberkati Berlimpah-limpah). Namun, ada syaratnya, ada harga yang harus kita bayar. Tidak mau membayar harganya, maka setiap kita tidak akan pernah mengalami tanah perjanjian.

Syarat-syarat untuk mengalami Tanah Perjanjian:

Hidup dalam firman Tuhan
Mental pertama adalah merenungkan Firman Tuhan dan mengalami firman Tuhan (Yosua 1:8). Kehausan dan kerinduan inilah yang menjadikan apapun yang kita pegang menjadi penuh susu dan madu.

Mengalami Hadirat Tuhan
Mental kedua adalah mengalami hadirat Allah atau tabut perjanjian. Waktu-waktu kedepan kita membutuhkan Tuhan lebih karena jalan-jalan di depan belum pernah kita lalui (Yosua 3:3-4). Masuk ke dalam hadirat lebih banyak, doa puasa lebih banyak, dan penyembahan lebih banyak maka hadirat Allah akan kita alami lebih banyak. Hasilnya, berkat susu dan madu akan lebih banyak kita nikmati.

Menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Raja
Mental ketiga adalah mau melepaskan tali kasut (Yosua 5:15). Kasut berbicara mengenai kerelaan hati (Efesus 6:15). Artinya rela hati dan mau mengijinkan Tuhan memimpin hidup kita. Rela hati dan mengijinkan Tuhan mengintervensi hidup kita. Bahkan rela hati dan mengijinkan Tuhan memulihkan bagi kita apapun (pasangan hidup, pekerjaan, kota tujuan, bisnis baru yang akan kita munculkan, dan keputusan-keputusan kita). Percayalan saat Dia menjadi panglima, Tuhan dan Raja maka kemenangan, strategi baru dan kelimpahanlah yang akan mengikuti kita (Yeremia 17:5-8)

Hidup dalam ketaatan
Mental keempat adalah hidup dalam ketaatan! (Baca: Ketaatan) Tidak taat maka tidak akan pernah mengalami datangnya hari baik. Jadi bukan hanya mendengarkan suara Tuhan, tetapi harus melakukan dengan setia apapun yang Tuhan sampaikan (Ulangan 28:1). Tidak taat secara otomatis akan hidup di dalam kutuk (Ulangan 28:15-68). Ketaatan Yosualah yang menjadikannya menaklukkan Yerikho (Yosua 6:2-5)

Hidup dalam kekudusan
Mental kelima adalah hidup dalam kekudusan. Tanpa kekudusan setiap kita tidak akan melihat Allah (Matius 5:8). Bahkan tanpa kekudusan setiap kita tidak akan pernah mengalami kemenangan, kebesaran dan kelimpahan dari Tuhan. Tetapi yang akan dialami adalah kekalahan besar. Lihat Akhan di Yosua 7:1,13-15/rp-wjgkkd/070107-p02/e-okezone.com

*Foto: copyright thechive.files.wordpress.com

Monday, March 23, 2015

3 Kualitas Kehidupan di Miliki Seorang Ayub


3 Kualitas Kehidupan di Miliki Seorang Ayub
e-Okezone.com, 3 Kualitas Kehidupan di Miliki Seorang Ayub - Lahir dari rahim seorang ibu sebagai laki-laki berbeda dengan kerinduan untuk lahir menjadi pria maksimal. Karena menuntut setiap kita untuk membayar harganya. Bahkan seringkali meregang nyawa.

Ayub adalah seorang kepala keluarga yang saleh. Seorang suami yang dihormati oleh anak-anaknya. Seorang pria yang ditakuti oleh iblis dan dibanggakan oleh Tuhan (Ayub 1:8). Firman Tuhan mengatakan, ada 3 Kualitas Kehidupan di Miliki Seorang Ayub sehingga hidupnya berkenan di hadapan Allah.

Kualitas 1, Saleh

Saleh mengacu kepada integritas moral dan komitmen sepenuh hati kepada Allah (Baca: Ujian Seumur Hidup). Ayub memiliki standar yang jelas di area moral yaitu memiliki istri satu, menjaga hidupnya kudus di hadapan Allah. Bahkan setelah anak-anaknya berpesta, dia selalu mengadakan pendamaian di hadapan Allah bagi anak-anaknya.
Hal-hal praktis yang bisa dilakukan: Memimpin mezbah keluarga di rumah, berdoa dan berpuasa bagi istri dan anak-anak dan membacakan firman Tuhan bagi anak-anak.
Kualitas 2, Jujur
Jujur menunjukkan kebenaran dalam perkataan, tindakan dan pikiran. Jujur itu hidup dengan tidak ada yang ditutupi. Anak dan istri kita bisa melihat siapa kita sesungguhnya. Apa yang dilakukan sejalan dengan yang diucapkan. Ayub berikan teladan jelas dalam mencari Tuhan (Baca: Hadirat Tuhan).
Hal-hal praktis yang bisa dilakukan: Berikan teladan kepada istri dan anak untuk datang ibadah tepat waktu.
Kualitas 3, Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan
Takut akan Tuhan menunjukkan rasa hormat, kagum dan segan kepada Tuhan karena mata Tuhan memperhatikan kita. Ayub hormat kepada Tuhan, sampai-sampai dia mempersembahkan korban setiap kali anak-anaknya selesai berpesta. Dia tidak mau anak-anaknya berdosa.
Hal-hal praktis yang bisa dilakukan: Saat teduh teratur, Doa puasa lebih intensif, mezbah keluarga kudu lancar.
Jadilah berkat buat keluarga, komunitas dan orang lain lewat 3 Kualitas Kehidupan di Miliki Seorang Ayub/rp-wjgkkd140107-p04/e-okezone.com

*FOTO: copyright wikimedia.org